5.14.2016

Jagalah anak-anak kita

  No comments    
categories: ,

Anak-anak merupakan aset agama dan bangsa. Miris jika kita lihat anak-anak tanpa masa depan, sedari kecil sudah minim pendidikan serta kasih sayang bahkan ada yang dirusak oleh orang-orang terdekatnya. Kasus yang terjadi sekarang ini seperti kekerasan terhadap anak oleh orang tua, eksploitasi anak, tindakan asusila, pemerkosaan bahkan pembunuhan masih ada di masyarakat kita. Sedihnya anak merasa insecure bahkan dengan keluarga terdekatnya. Lalu apa yang harus dilakukan? apakah mengandalkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan LSM sejenis saja sudah cukup? rasanya tidak. Peran orang tua atau wali sebagai orang terdekat sangatlah krusial, itulah mengapa pentingnya ilmu parenting dalam sebuah rumah tangga. Orang tua atau wali harus menjadi tempat pelabuhan teraman bagi anak, tempat curhat yang utama, tempat pendidikan akhlak dan karakter awal bagi anak, serta monitor tumbuh kembang anak. 
Harus disadari estafet kepemimpinan di semua lini akan sampai kepada anak-anak masa kini. Regenerasi adalah keniscayaan, karenanya pendidikan bagi anak-anak sangatlah penting. Fungsi pendidikan dalam keluarga dan lembaga pendidikan formal harusnya beriringan. Dalam keluarga,terdapat konsep parenting menurut Ali bin abi thalib r.a :
1. 7 tahun pertama (1-7) perlakukan anakmu seperti raja. Pada usia ini,perkembangan anak secara fisik,emosi sosial dan intelektual sedang berada pada titik start. Maka perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang,lembut,mengajarkan dan memberi teladan kebaikan amatlah penting. Pada usia ini anak sedang memiliki keingintahuan tinggi,mudah meniru orang lain serta jiwa yang masih rapuh dan labil,sehingga sikap marah,membentak dan kasar tidak baik bagi perkembangannya.
2. 7 tahun kedua (8-14) perlakukan anakmu seperti tawanan.
Tawanan di sini bukan berarti mengekang,tetapi memberikan hak secara proporsional disamping adanya kewajiban dan larangan. Masa-masa usia ini,anak sudah bisa diajarkan kedisiplinan dalam hidupnya.
3. 7 tahun ketiga (15-21) perlakukan anakmu seperti sahabat.
Usia 15 merupakan rata-rata usia anak mencapai akil balig, dimana semua ibadah dan dosa sudah menjadi tanggungan diri sang anak. Peran orang tua sebagai sahabat amat penting,karena anak mulai beranjak dewasa. Sudah bisa memilih dan memutuskan segala hal dalam hidupnya.
“Ya Tuhan kami,anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang beriman” (QS. Al Furqan: 74)
Jagalah mereka. Berikan kecukupan kasih sayang, materil, kesehatan serta pendidikan yang baik. Lembaga pendidikan formal pun harus berfungsi sebagai mana mestinya, mendidik tidak sebatas mengajar. Jika semua bersinergi, In sha Allah masa depan anak-anak sebagai pewaris agama dan bangsa akan cemerlang. Aaamiin. 

Emang harus ya corat-coret seragam?

  No comments    
categories: ,
Kelulusan adalah sebuah hal yang diinginkan setiap pelajar di semua jenjang. Setelah berlelah-lelah, letih dalam perjuangan semua ujian, akhirnya yang ditunggu telah tiba. Rasa capek dan deg-degan langsung sirna saat tau kamu berhasil lulus dari sekolah. Kebayang kan senengnya macam apa?
Ekspresi rasa senang itu diwujudkan dalam hal positif dan juga negatif. Katakanlah ada "tradisi" perayaan sehabis lulus. Beda negara, kota dan budaya pasti beda juga tradisinya. Di Indonesia sendiri, terutama tingkat pelajar SMA masih ada tradisi coret baju seragam. Alasannya sih sebagai kenang-kenangan yang isinya bisa tanda-tangan atau pesan dari teman seangkatan. Whatever, I disagree with this, kenapa? menurutku ini tradisi mubazir dan kurang bermanfaat. Selain buang-buang pilox secara percuma, corat-coret ini juga sering berujung ke aksi vandalisme di ruang publik, mending bikin mural yang nilai seninya jelas. Baju seragam itu juga bisa aja kan diwariskan ke saudara atau tetangga yang membutuhkan. Jaman digital macam ini, kalau mau buat kenang-kenangan semacam itu kan bisa dibikin versi digital, jadi gak perlu merusak sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Apalagi setelah baca berita akhir-akhir ini, aksi corat-coret baju ini menjadi vulgar karena ada sebagian pelajar yang corat-coret baju di bagian vital dan tindakan seksual lainnya yang tak layak dilakukan seorang pelajar. Astagfirullah.

Selain aksi coret baju, tradisi konvoi dan ugal-ugalan masih banyak dilakukan sebagai bentuk perayaan kelulusan, yang negatifnya bikin macet bahkan sampai ada yang mengalami perkelahian dan menimbulkan korban. Bukankah lebih arif kalau konvoinya jalan kaki sambil mungutin sampah?hehe. Di Jogja tuh ada bentuk perayaan yang patut dicontoh, yaitu membagikan nasi bungkus ke warga yang berhak di sekitar sekolah. Keren kan? selain ini bentuk aksi sosial, timbal baliknya para warga mendoakan para pelajar juga agar sukses di masa depan. 

Aksi bagi-bagi nasi bungkus di Jogjakarta
Sumber : http://jogja.tribunnews.com/

Bentuk perayaan kelulusan sebagai rasa syukur itu bisa diekspresikan dengan banyak kegiatan positif loh, misal doa bersama, traktir makan para guru (loh), patungan beli bibit pohon terus tanam di sekolah, aksi jalan santai sambil mungut sampah, donor darah dan masih banyak deh yang bisa dilakukan dan jadikan tradisi positif untuk merayakan kelulusan. So, masih harus ya corat-coret baju?

Buat adik-adik yang lulus, semoga sukses masuk ke sekolah atau PT yang diimpikan ya. Sukses meraih cita-cita dan ilmu yang bermanfaat. Nikmati setiap masa dengan hal-hal positif dan kebermanfaatan, Good Luck everyone !